Sunday, October 30, 2022

Setelah 150 Tahun, Misteri Buaya Bertanduk Akhirnya Terpecahkan


Setelah hampir 150 tahun menjadi kontroversi, misteri identitas spesies buaya bertanduk yang sudah punah kini terpecahkan. Para ilmuwan di Amerika Serikat akhirnya berhasil memecahkan misteri tersebut. Berdasar temuan sains terbaru ini mereka meyakini telah berhasil menentukan dan mengklasifikasikan dengan tepat di posisi mana buaya ini seharusnya berada pada pohon kehidupan.

"DNA menceritakan kisah yang berbeda," ujar Evon Hekkala, peneliti dari Fordham University yang memiliki afiliasi dengan American Museum of Natural History.

"Itu (hasil tes DNA) memberitahu kita berulang kali bahwa penampilan bisa menipu," ucap Hekkala lagi, seperti dilansir Live Science.

Buaya bertanduk yang telah punah ini diberi nama ilmiah Voay robustus. Buaya ini merupakan hewan yang hidup endemik di Madagaskar sejak 9.000 tahun lalu dan hidup pada 1.300 hingga 1.400 tahun yang lalu, menurut bukti-bukti yang ditemukan pada fosilnya.

Fosil-fosil hewan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1872. Buaya ini kemudian dinamai sesuai dengan tanduk khas yang ada di tengkorak mereka.

Sejak fosil-fosil tanduk dan tengkorak mereka ditemukan, buaya ini telah diklasifikasikan oleh sejumlah peneliti ke dalam beberapa famili yang berbeda. Mereka disalahartikan sebagai spesies lain dan diberi beberapa nama berbeda, tanpa asal usul evolusioner yang jelas.

Sebelumnya buaya bertanduk ini disebut-sebut memiliki kedekatan dengan buaya Nil. Bukti-bukti paling awal terkait keberadaan buaya Nil di Madagaskar adalah sejak 300 tahun lalu. Namun cerita rakyat Malagasi menunjukkan bahwa buaya Nil mungkin telah bermigrasi ke sana lebih awal dan hidup berdampingan dengan buaya bertanduk, kata Hekkala.

Buaya bertanduk bukanlah buaya yang sangat besar, tetapi tengkorak mereka yang besar menunjukkan bahwa mereka kemungkinan besar adalah hewan yang kuat, yang menyebabkan nama spesies mereka menjadi robustus, kata Hekkala.

"Kami tidak memiliki kerangka lengkap, tetapi mereka tidak terlalu panjang," tutur Hekkala. "Berdasarkan ukuran tengkorak mereka, ukuran keseluruhan mereka mungkin mirip dengan buaya Nil."

"Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa bagian pulau (Madagaskar) menjadi lebih kering," kata Hekkala. "Bisa jadi ini menguntungkan buaya Nil yang baru tiba dan membuat pulau itu lebih tidak ramah bagi buaya bertanduk endemik."

Dalam studi terbaru yang laporannya telah terbit secara online di jurnal Communications Biology pada 27 April 2021, Hekkala bersama para peneliti lain dari American Museum of Natural History (AMNH) di New York City dan dari sejumlah kampus ternama, melakukan tes dan analisis DNA untuk mengidentifikasi identitas reptil ambigu ini secara lebih pasti. Mereka kemudian menentukan apakah buaya ini termasuk dalam kelompok unik mereka sendiri atau termasuk kelompok spesies yang sudah ada.

Catatan-catatan fosil yang terbatas dan sejarah ekologi Madagaskar yang tidak lengkap sebagian merupakan penyebab mengapa butuh hampir 150 tahun untuk berhasil menempatkan buaya bertanduk dalam kelompok evolusinya sendiri. Selain itu, secara fisik, terutama bagian tengkoraknya, spesies buaya bertanduk ini sangat mirip dengan buaya Nil, yang secara historis digunakan para ilmuwan untuk mengklasifikasikannya.

Ketika buaya-buaya bertanduk itu pertama kali ditemukan, para ilmuwan mengklasifikasikannya sebagai buaya sejati --subfamili yang mencakup buaya Nil dan buaya modern lainnya seperti buaya Amerika (Crocodylus acutus) dan buaya air asin (Crocodylus porosus)-- dan diberi nama Crocodylus robustus.

Kebingungan ini diperbesar pada tahun 1910 ketika ilustrasi populer tentang bagaimana rupa buaya bertanduk itu dirilis dalam sebuah artikel ilmiah, kata Hekkala. Sayangnya, gambar itu sebenarnya menggambarkan buaya Nil zaman modern, tetapi itu membantu memperkuat teori bahwa buaya bertanduk adalah buaya sejati. Beberapa bahkan berpendapat bahwa buaya bertanduk mungkin saja nenek moyang buaya Nil.

Teori ini tetap menjadi konsensus umum hingga 2007 ketika para peneliti menganalisis tengkorak fosil buaya bertanduk ini. Analisis tengkorak ini dilakukan untuk mengungkapkan perbedaan fisiologis yang signifikan dibandingkan dengan buaya Nil.

Setelah hasil analisis tersebut keluar, buaya bertanduk ini kemudian dimasukkan ke dalam subfamili lain yang disebut buaya kerdil. Ini adalah kelompok buaya yang lebih kecil dengan tengkorak pendek dan kokoh yang menyimpang dari buaya sejati jutaan tahun yang lalu. Buaya bertanduk ini kemudian juga diberi nama genus baru yaitu Voay yang berarti “buaya” dalam bahasa Malagasi.

Dalam studi terbaru kali ini, para peneliti AMNH menganalisis bukti DNA yang didapat dari spesies buaya bertanduk ini untuk menentukan kelompok mana yang sebenarnya dari buaya itu.

Temuan sains terbaru menunjukkan hasil analisis DNA yang mengungkapkan bahwa buaya bertanduk ini bukanlah buaya kerdil seperti yang disarankan oleh penelitian tahun 2007, juga bukan buaya sejati seperti yang diasumsikan oleh para naturalis sebelumnya. Sebaliknya, mereka termasuk dalam genus unik mereka sendiri.

"Yang mengejutkan kami pada saat itu adalah bahwa ia tidak dikelompokkan dalam buaya sejati, tetapi berdekatan dengannya," kata Hekkala. "Ini membuatnya seperti garis keturunan yang telah lama hilang yang terisolasi di sebuah pulau."

Fakta bahwa kelompok baru ini, yang berkerabat dekat dengan buaya sejati, adalah endemik di Afrika juga menunjukkan bahwa di sinilah buaya pertama kali berevolusi, yang merupakan teori terkemuka di alam. "Data kami mendukung hipotesis bahwa buaya modern yang kami lihat hari ini berasal dari Afrika," kata Hekkala.

Mengungkap misteri evolusi seputar buaya bertanduk sangatlah penting karena membantu para ilmuwan membangun gambaran yang lebih baik tentang bagaimana hewan modern berevolusi dan bagaimana mereka dapat beradaptasi terhadap perubahan, kata Hekkala.

"Spesies yang punah dapat menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan," ujar Hekkala. "Mereka membantu kita melakukan perjalanan waktu dan menghubungkan kembali sejarah evolusi untuk menceritakan kisah kehidupan dan kepunahan di Bumi."

Kejutan Laut Dalam, Peneliti Menemukan Jalur Tak Terduga di Dasar Laut

Sekelompok peneliti internasional menemukan kejutan yang tak terduga di laut dalam. Tim peneliti laut dalam dari Jerman dan Norwegia itu menemukan jejak-jejak yang membentuk jalur misterius di dasar Laut Arktik.

Setelah para peneliti melihat hasil pencitraan gambar dengan resolusi tinggi atas dasar laut dalam Arktik secara mendetail, mereka kemudian mengetahui bahwa jejak-jejak seperti jalur yang melintasi sedimen itu berakhir di tempat spons-spons. Jalur-jalur ini tampak bergerak ke segala arah, termasuk arah menanjak.

Temuan ini mengejutkan, mengingat selama ini spons dianggap sebagai salah satu hewan paling primitif karena tidak memiliki organ penggerak atau sistem saraf. Mereka dianggap sebagai hewan yang tidak bergerak sama sekali. Setelah mereka menetap di suatu tempat dan menjadi dewasa, mereka pada umumnya tidak dianggap bergerak-gerak.

Namun, temuan mengejutkan di dasar laut dalam Arktik ini membuktikan hal sebaliknya. Jalur yang ditemukan di dasar laut dalam Arktik ini menunjukkan bahwa spons meninggalkan jejak di dasar laut tersebut.

Para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa spons mungkin bergerak secara aktif, meskipun hanya beberapa sentimeter per tahun. Laporan hasil temuan unik ini kemudian mereka publikasikan di jurnal Current Biology. Laporan ini telah terbit di jurnal tersebut pada 26 April 2021.

“Kami menyimpulkan dari sini bahwa spons mungkin secara aktif bergerak melintasi dasar laut dan meninggalkan jejak-jejak ini sebagai akibat dari pergerakan mereka,” ujar Dr. Teresa Morganti, ahli spons dari Max Planck Institute of Marine Microbiology di Bremen, Jerman, yang memimpin studi ini, dilansir SciTechDaily.

Ini sangat menarik karena sains sebelumnya berasumsi bahwa sebagian besar spons menempel di dasar laut atau digerakkan secara pasif oleh arus laut dan, biasanya menuruni lereng.

“Tidak ada arus kuat di laut dalam Arktik yang dapat menjelaskan struktur yang ditemukan di dasar laut itu,” jelas pemimpin ekspedisi Prof. Antje Boetius, ahli laut dalam dari Max Planck Institute of Marine Microbiology dan Alfred Wegener Helmholtz Centre for Polar and Marine Research.

“Kami mengamati jejak spikula yang terjalin rapat yang terhubung langsung ke sisi bawah atau bawah individu spons, menunjukkan jejak-jejak ini adalah jejak motilitas spons,” papar para peneliti.

“Ini adalah pertama kalinya jejak-jejak spons yang melimpah telah diamati di tempat dan dikaitkan dengan mobilitas spons,” terang mereka.

Banyak pertanyaan muncul dari pengamatan ini: Mengapa spons bergerak? Bagaimana mereka menyesuaikan diri?

Alasan yang mungkin mendorong mereka bergerak antara lain untuk mencari makan, menghindari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, atau untuk mendistribusikan keturunan. Pencarian makanan secara khusus memainkan peran utama dalam ekosistem yang miskin nutrisi seperti laut dalam di Kutub Utara.

Di lingkungan laut Kutub Utara, spons punya peran penting bagi ekosistem, yakni sebagai pengumpan filter. Mereka dapat memanfaatkan partikel dan bahan organik terlarut dan secara intensif terlibat dalam daur ulang nutrisi dan materi melalui simbion bakteri mereka. Selain itu, mereka juga membantu membentuk habitat dengan struktur-struktur yang berguna bagi para ikan dan udang kutub.

Apapun alasan utama spons untuk bergerak di dasar laut dalam itu, para ilmuwan tetap harus menyelidiki mekanisme penggeraknya. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang seberapa cepat dan mengapa spons membuat gerakan yang tidak terduga ini, mereka mengatakan perlunya dilakukan pencitraan gambar lebih lanjut dan studi-studi lainnya.


 

Friday, October 28, 2022

Kekaisaran Parthia, Rival Kekaisaran Romawi yang Dilupakan Sejarah


Pada 53 Sebelum Masehi, legiun Romawi menderita kekalahan memalukan di Pertempuran Carrhae. Serangkaian perang yang panjang terjadi, tetapi Romawi gagal melenyapkan musuh bebuyutan mereka—Parthia. Pada masa keemasannya, kekaisaran ini menguasai wilayah yang luas, terbentang dari Efrat hingga Himalaya. Sayangnya, Parthia yang menjadi rival Kekaisaran Romawi itu dilupakan oleh sejarah.

Memiliki kendali atas Jalur Sutra membuat Parthia menjadi kekaisaran yang kaya. Kekayaan itu memungkinkan penguasa toleran untuk menghidupkan kembali kebesaran Kekaisaran Achaemenid dan meniru multikulturalismenya

Selain itu, Parthia mampu mendanai pasukan canggih, yang selama berabad-abad mendominasi medan perang. Dengan segala kelebihannya, Parthia terbukti menjadi hambatan yang tidak dapat diatasi bagi legiun Romawi. Pada akhirnya, musuh abadi Romawi itu dihancurkan oleh musuh terdekatnya yaitu Kekaisaran Persia Sassanid.

Kebangkitan Parthia

Setelah kematian Alexander Agung, sahabat dan jenderal terdekatnya—Diadochi—membangun kekaisaran besarnya. Bagian terbesarnya, yang terdiri dari bekas pedalaman Persia, berada di bawah kendali Seleukus I Nicator. Ia mendirikan dinasti Seleukus pada 312 Sebelum Masehi setelah serangkaian konflik.

Namun, perang terus-menerus dengan Ptolemeus Mesir melemahkan kontrol Seleukus atas bagian timur kerajaan mereka yang luas. Pada 245 Sebelum Masehi, gubernur Parthia (sekarang Iran utara) memanfaatkan salah satu konflik tersebut dan memberontak. Parthia menyatakan kemerdekaannya dari Kekaisaran Seleukia.

"Namun, kesuksesannya berumur pendek," tulis Vedran Bileta di laman The Collector. Ancaman baru datang, kali ini bukan dari Timur, melainkan dari Utara. Pada 238 Sebelum Masehi, sebuah kelompok nomaden kecil yang dikenal sebagai Parni, menyerbu Parthia. Kelompok nomaden itu dengan cepat mengambil alih provinsi tersebut. Seleucid segera merespons, tetapi pasukan mereka tidak dapat merebut kembali daerah tersebut.

Pada tahun-tahun berikutnya, Parni secara bertahap diserap oleh penduduk asli Parthia, menciptakan fondasi yang kuat untuk sebuah kekaisaran. Perang dengan Seleukus berlanjut selama beberapa dekade. Namun, pada pertengahan abad kedua Sebelum Masehi, Parthia menaklukkan semua wilayah inti Kekaisaran Achaemenid lama. “Ini termasuk dataran subur Mesopotamia,” tambah Bileta.

Tidak mengherankan, para penguasa Parthia memilih wilayah yang kaya dan penting secara strategis ini untuk membangun ibu kota barunya. Dengan posisi yang strategis, ibu kotanya dengan cepat menjadi salah satu kota terpenting di dunia kuno—Ctesiphon.

Ctesiphon, ibu kota kosmopolitan yang kaya

Ctesiphon secara ideal terletak di pusat kekaisaran besar, membentang dari Baktria (sekarang Afghanistan) hingga Efrat.

Seperti pendahulunya Achaemenid, Parthia juga merupakan kekaisaran kosmopolitan. Penduduknya terdiri dari orang-orang yang berbicara banyak bahasa yang berbeda. Mereka juga memiliki banyak budaya dan agama yang berbeda.

Penguasa Parthia—Arsacid—tidak memiliki hubungan darah dengan pendahulu Persia sebelumnya. Namun, mereka menganggap diri mereka sebagai pewaris sah Kekaisaran Achaemenid. Sebagai ganti hubungan keluarga, Arsacid mempromosikan multikulturalisme seperti yang dilakukan pendahulunya.

Selama membayar pajak dan mengakui otoritas Arsacid, rakyat Parthia bebas menganut agama, adat, dan tradisi mereka.

Dinasti itu sendiri mencerminkan inklusivitas kerajaannya. Penguasa Parthia pertama—Arsaces I—mengadopsi bahasa Yunani sebagai bahasa resmi. Penerusnya mengikuti kebijakan ini dan mencetak koin mengikuti model Helenistik.

Seni dan arsitektur menampilkan pengaruh Helenistik dan Persia. Akan tetapi warisan Iran Parthia tetap dipertahankan dari waktu ke waktu. Bangsa Arsacid melestarikan dan menyebarkan agama Zoroaster dan mereka berbicara bahasa Parthia. Seiring dengan berjalannya waktu, bahasa Yunani pun digantikan dengan bahasa Parthia. Pergeseran ini merupakan respons Parthia terhadap kekuatan dan ancaman yang berkembang dari saingan baratnya—Kekaisaran Romawi.

Parthia dan Romawi, musuh abadi

Sepanjang keberadaannya, Kekaisaran Parthia menjadi kekuatan utama di dunia kuno. Sementara perbatasan timur sebagian besar sepi, Parthia harus menghadapi tetangganya yang agresif di Barat.

Menyusul kemenangan melawan Seleucid dan negara bagian Pontus, Romawi mencapai perbatasan Parthia. Namun, pada 53 Sebelum Masehi, Parthia menghentikan kemajuan Romawi, memusnahkan legiun mereka. Pasukan Parthia membunuh komandan Romawi, Marcus Licinius Crassus.

Selama pertempuran ini, kavaleri Parthia menggunakan "Tembakan Parthia" yang khas, dengan hasil yang menghancurkan. Pertama, pasukan berkuda maju, hanya untuk mundur secara taktis atau pura-pura. Kemudian, pemanah mereka berbalik dan menghujani musuh dengan tembakan panah mematikan. Akhirnya, katafrak lapis baja Parthia menyerang legiuner yang tidak berdaya dan bingung. Kontak, pasukan Romawi panik dan melarikan diri dari medan perang.

Pada tahun 36 Sebelum Masehi, Parthia mencetak kemenangan besar lainnya melawan Romawi, mengalahkan legiun Mark Antony di Armenia.

Namun, pada abad pertama Masehi, permusuhan berhenti. Kedua kekuatan besar menetapkan batas di sepanjang Sungai Efrat. Kaisar Augustus bahkan mengembalikan standar elang yang hilang dari Crassus dan Antony.

Gencatan senjata itu hanya sementara, karena baik Romawi maupun Parthia menginginkan kendali atas Armenia. Wilayah itu menjadi pintu gerbang ke padang rumput yang luas, dan Asia Tengah. Namun, tidak ada pihak yang bisa membuat terobosan. Meskipun Kaisar Trajan mampu menaklukkan Mesopotamia pada tahun 117 Masehi, Romawi gagal memecahkan “permasalah timur”.

Parthia, yang dilemahkan oleh masalah internal, juga tidak dapat mengambil inisiatif. Akhirnya, pada tahun 217, setelah penjarahan Ctesiphon oleh Caracalla dan kematian mendadak kaisar, orang Parthia memanfaatkan kesempatan untuk menguasai benteng utama Nisibis. Parthia memaksa orang Romawi untuk menyetujui perdamaian yang memalukan.

Parthia terhapuskan dari sejarah

Pembalikan keberuntungan dan kemenangan di Nisibis adalah kemenangan terakhir Parthia atas saingan baratnya. Namun pada saat yang sama, kekaisaran berusia 400 tahun itu sedang mengalami kemunduran. Parthia dilemahkan oleh perangnya yang mahal dengan Romawi serta oleh perjuangan dinasti.

Ironisnya, penyebab kejatuhan Parthia mirip dengan waktu mereka menyatakan kemerdekaan dari Kekaisaran Seleukia. Musuh terakhirnya datang dari Timur. Pada 224 Masehi, seorang pangeran Persia dari Fars (Iran selatan)—Ardashir—memberontak melawan penguasa Parthia terakhir. Dua tahun kemudian, pada tahun 226, pasukan Ardashir memasuki Ctesiphon. Parthia tidak ada lagi, tempatnya diambil oleh Kekaisaran Sassanid.


Jika ada orang di Romawi yang merayakan kejatuhan Parthia saat itu, mereka segera menyesalinya. Tekad Sassanid untuk merebut kembali semua tanah Achaemenid lama membawa mereka pada pertempuran dengan Kekaisaran Romawi.

Agresi Sassanid, didorong oleh semangat nasionalistis, menyebabkan perang yang sering terjadi di abad-abad berikutnya. Perang tersebut menyebabkan kematian lebih dari satu kaisar Romawi.

Namun, Romawi bukan satu-satunya target kekaisaran baru dan kuat ini. "Untuk memperkuat legitimasinya, Sassanid menghancurkan catatan sejarah Parthia, monumen, dan karya seni," Bileta menambahkan. Mereka mempromosikan budaya dan tradisi Iran, terutama Zoroastrianisme. Semangat ideologis dan religius ini hanya terus tumbuh pada abad-abad berikutnya. Tentu menyebabkan terjadi konflik dengan orang Romawi.

Seiring dengan berjalannya waktu, Parthia—musuh abadi Romawi—pun terhapus dari sejarah.